Perkeretaapian di Indonesia memiliki akar sejarah yang panjang. Jalur rel pertama dibangun pada masa kolonial Belanda dan sejak itu terus berkembang, mengalami nasionalisasi, perubahan organisasi, hingga menjadi institusi modern yang mengelola angkutan kereta api di seluruh negeri KAI. Sejarahnya mencerminkan perkembangan ekonomi, politik, dan teknologi bangsa ini.
Era Kolonial Awal dan Perkembangan Rel
- 17 Juni 1864
Titik awal perkeretaapian Indonesia ditandai dengan pencangkulan pertama pembangunan rel kereta api rute Semarang–Vorstenlanden (Solo–Yogyakarta) di Desa Kemijen oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, L.A.J. Baron Sloet van de Beele. Pembangunan ini dilakukan oleh perusahaan swasta Naamlooze Vennootschap Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NV NISM), dengan lebar sepur standar internasional yaitu 1.435 mm. - 1875
Pemerintah kolonial membangun jalur kereta api milik negara melalui perusahaan Staatsspoorwegen (SS). Rute awal dibangun meliputi Surabaya–Pasuruan–Malang. - Peran Swasta dan Ekspansi Rel
Selain SS dan NISM, banyak perusahaan swasta lain (tram atau stoomtram) yang ikut membangun jalan rel dan melayani daerah-daerah yang lebih terpencil. Contohnya: Semarang Joana Stoomtram Maatschappij (SJS), Semarang Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS), Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS), Oost Java Stoomtram Maatschappij (OJS), dan sebagainya. - Perluasan Wilayah
Jalur kereta api tidak hanya berkembang di Pulau Jawa, melainkan juga ke Sumatera (Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Sumatra Selatan) dan ke wilayah Sulawesi sekitar awal abad ke-20. - Perkembangan pada tahun-tahun awal
Pada akhir dekade 1920-an (sekitar tahun 1928), total panjang rel dan trem di seluruh Hindia Belanda mencapai sekitar 7.464 km, yang terdiri dari sekitar 4.089 km milik pemerintah dan 3.375 km milik perusahaan swasta.
Masa Perang dan Transisi Kemerdekaan
- Era Pendudukan Jepang (1942–1945)
Selama Perang Dunia II, ketika Jepang menduduki Hindia Belanda, kontrol atas sistem perkeretaapian pun diambil alih. Nama dan struktur organisasi diganti, dan perkeretaapian digunakan untuk kepentingan militer pendudukan. - Proklamasi Kemerdekaan & Pengambilalihan
Setelah Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, momentum penting datang pada 28 September 1945, ketika kantor pusat kereta api di Bandung beserta stasiun-stasiun dan fasilitas kereta api lainnya yang dikuasai Jepang diambil alih oleh rakyat dan pemerintah Republik Indonesia. Hari itulah yang kemudian diperingati sebagai Hari Kereta Api Nasional. Pada tanggal tersebut berdirilah Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) sebagai bentuk pengelolaan perkeretaapian Indonesia yang merdeka.
Transformasi Organisasi
Setelah kemerdekaan, organisasi perkeretaapian mengalami beberapa kali perubahan nama dan bentuk lembaga:
| Periode | Nama / Bentuk | Catatan |
|---|---|---|
| 1950 | Djawatan Kereta Api (DKA) | Hasil penggabungan DKARI dan perusahaan kereta api kolonial/staatsspoorwegen setelah Belanda kembali pada masa perundingan pascaperang & KMB (Konferensi Meja Bundar) |
| 1963 | Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA) | Bentuk badan usaha negara untuk pengelolaan kereta api |
| 1971 | Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) | Perubahan status organisasi agar lebih formal, memiliki struktur jawatan pemerintahan tertentu |
| 1991 | Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka) | Transisi menuju bentuk lebih fleksibel sebagai perusahaan umum |
| 1998 | PT Kereta Api (Persero) | Pengubahan menjadi perseroan terbatas, bagian dari reformasi BUMN |
| 2010 | PT Kereta Api Indonesia (KAI) | Penambahan “Indonesia” secara resmi sebagai bagian nama, memperjelas status sebagai perusahaan nasional modern. |
Regulasi juga ikut berkembang, termasuk undang-undang dan peraturan pemerintah yang mengatur penyelenggaraan perkeretaapian, keselamatan, dan operasi. Contoh: Undang-Undang No.13 Tahun 1992 tentang Perkeretaapian, kemudian peraturan pemerintah dan peraturan pelaksana yang menyusul.
Teknologi, Jaringan, dan Perluasan
- Double-track dan Modernisasi Infrastruktur
Seiring kebutuhan transportasi yang semakin besar, jalur kereta api di Jawa dilebarkan menjadi jalur ganda (double-track) untuk meningkatkan kapasitas dan kecepatan. - Anak Perusahaan dan Layanan Spesialis
KAI mengembangkan beberapa anak perusahaan dan layanan khusus seperti KA Bandara, KAI Commuter (KCJ) untuk jaringan KRL di Jabodetabek, serta PT Railink yang mengelola KA Bandara Kualanamu, dan lainnya. - Kereta Cepat dan Transportasi Modern
Termasuk proyek kereta cepat seperti Jakarta–Bandung, pengembangan LRT, MRT, dan KA bandara sebagai bagian dari modernisasi angkutan umum.
Hari Kereta Api Nasional
28 September dipilih sebagai Hari Kereta Api Nasional karena tanggal tersebut memperingati pengambilalihan kantor pusat kereta api di Bandung dari Jepang pada 28 September 1945, yang secara simbolis menandai berdirinya DKARI.

